Fakta,,Sebarkan Sebelum Ada Korban Lagi!! Usus Bocah Ini Dipotong 2 Kali Gara-gara Sering Mengkonsumsi Makanan Ini..ayo kita baca agar Percaya!

Sahabat medianda Waktu umur Hilal memijak 2 th., saya mengambil keputusan bekerja, membantu keuangan keluarga mengingat pendapatan suamiku, Saripudin (39), tidak lebih memenuhi kepentingan keluarga 

Saya bekerja di perusahaan pembuat bulu mata palsu, tidak jauh dari tempat tinggal kita di Garut. Setiap pergi kerja, Hilal kutitipkan pada ibuku. Di situ, ibuku sering memberikannya mi instan. Bukanlah salah ibuku, sich, sebab terlebih dulu, saya juga sukai memberikannya makanan itu jika sedang tidak masak. 

Kenyataannya, Hilal jadi “tergila-gila” makanan itu. Ia akan mengamuk serta mogok makan jika tidak di beri mi instan. Ya, dari pada cucunya kelaparan, ibuku pada akhirnya cuma mengalah serta menuruti kemauan Hilal. Sekali lagi juga, bila tidak di beri, Hilal pasti akan beli sendiri mi instan di warung dekat rumah dengan uang jajan yang kuberbagi. Praktis, sehari 2 x ia makan mi instan. 

2 x dipotong 

Kamis, 20 November 2008, Hilal mengeluh sakit perut. Kupikir sakit umum. Anehnya, selesai tiga hari, sakitnya tidak kunjung hilang serta ditambah ia tidak dapat buang air besar. Dikarenakan itulah perutnya jadi membesar. 

Cemas, kubawa Hilal ke mantri dekat rumah. Sebab tetaplah tak ada perubahan, kita lalu membawanya ke RSU Dr Slamet, Garut. Kenyataannya hasil kontrol dokter lebih menyeramkan dari yang kuduga. Kupikir, lumayan dengan obat pencahar perut, sakit Hilal dapat segera sembuh. Rupanya tidak segampang itu. 

Hasil tes darah dan rontgen memberikan, Hilal harus segera di operasi sebab beragam step di ususnya bocor serta membusuk. Saat kutanyakan apa penyebabnya, dokter menjawab, efek dari kandungan makanan yang Hilal mengkonsumsi pada saat ini tidak sehat serta membikin ususnya rusak. Waktu itulah kutahu Hilal sangat seringkali memakan mi instan. Astagfirullah…. 

Atas referensi dokter, kita lalu mengangkat Hilal ke RS Hasan Sadikin, Bandung, dengan alasan perlengkapan medis di RS itu lebih komplit. Mulai sejak awal, tim dokter sudah pesimistis dengan keadaan Hilal yang demikian memprihatinkan dengan berat tubuh yg tidak sampai 11 kg. Dokter juga katakan, dari puluhan persoalan sama, cuma tiga orang yang bersi kukuh nasib. Saya cuma dapat berserah pada Allah SWT. 

Baru pada 25 November 2008 operasi diperbuat di RS Immanuel, Bandung. Waktu itu saya sedang hamil tiga bln.. Dokter mengamputasi usus Hilal lebih kurang 10 cm. Untuk menjadikan satu step usus yang terputus itu, dokter menyambungnya dengan usus sintetis. Bukan sekedar itu, dokter juga membikin celah anus sesaat (kolostomi) pada dinding perut samping kanan. 

Utang belum juga lunas 

Kenyataannya masalah kita belum juga beres sampai di situ. Tiga hari lalu, dokter temukan tetaplah ada tahap usus yang bocor. Harus, Hilal harus kembali naik ke meja operasi serta merelakan beberapa ususnya sekali lagi. 

Terang, saya serta suami begitu menginginkan Hilal sembuh. Namun, di sisi beda, penghasilanku jadi buruh tidak seberapa. Setiap bln., saya cuma dapat mengangkat pulang uang Rp 250. 000 dengan kata lain Rp 300. 000 bila lembur. Mengenai suamiku pendapatannya tidak pernah menentu. Maklum, ia hanyakuli kasar di pabrik tahu di Bandung. 


Mulai sejak Hilal jatuh sakit, saya mengambil keputusan berhenti bekerja. Akhirnya, suamiku harus banting tulang melakukan pekerjaan apapun asal hasilkan uang. Meski sudah bekerja demikian keras, rasa-rasanya percuma saja. Biaya operasi Hilal yang menjangkau Rp 16 juta merasa demikian besar serta tak tahu kapan dapat dilunasi. Terlebih, kita cuma miliki saat 10 hari untuk melunasinya. Untung pihak rumah sakit berbaik hati berikan kelonggaran saat dua hari jadi kita tetaplah pernah meminjam uang ke beragam keluarga serta tetangga. 

Untuk kesembuhan Hilal juga, kita harus lebih berhemat. Rumah kontrakan kita tinggalkan serta kita menumpang dirumah orangtuaku. Sebenarnya uang kontrakan rumah itu tidaklah terlalu besar, cuma Rp 300. 000 per th., namun tetaplah saja uang sebesar itu begitu bermakna untuk biaya penyembuhan Hilal. 

Kata dokter, kolostomi di perut Hilal sudah dapat ditutup selesai tiga bln.. Namun, baru selesai delapan bln. lalu, cocoknya 23 Juli 2009, operasi penutupan diperbuat. Terlebih bila bukanlah masalah biaya. Itu juga dapat diperbuat sebab kita dapat pertolongan dari satu stasiun tv swasta sebesar Rp 14 juta. 

Masalah utang ke keluarga serta tetangga sebesar Rp 16 juta, tak tahu kapan dapat kita bereskan. Kepalaku menjadi tambah pening apabila mengingat, sebentar sekali lagi si sulung, Panda Erdini (11), akan masuk SMP. 

Mulai sejak ususnya yang basi dipotong, Hilal tak akan rasakan sakit di bagian ususnya. Celakanya, rasa sakit malah beralih ke step kolostominya. Setiap saat habis makan, makanan itu pasti segera keluar melalui celah anus buatan itu. Waktu itulah dinding perutnya merasakan sakit yang menarik. Ia dapat menangis menjerit-jerit kesakitan. 

Belum juga plastik yang menempel untuk menyimpan feses yang penuh serta harus ditukar dengan yang baru. Double tape yang seringkali kali dilepaskan serta dipasang membikin kulit perutnya iritasi serta perih. 

Jika sudah tidak dapat menahan sakitnya, Hilal akan berujar, “Udah Hilal paeh saja! (Hilal tambah baik m4ti saja!) ” Terkadang juga ia berteriak mohon maaf pada Allah serta minta sembuh sembari mengatupkan ke-2 tangannya. Kasihan anakku. 

Setiap hari, pada saat delapan bln. itu, ia cuma menggunakan saatnya ditempat tidur. Hilal cuma mampu berjalan beragam menit sebab jika sangat lama ia pasti segera rasakan sakit di step kolostominya. Setiap malam, ia juga harus tertidur dengan paha diangkat menyentuh ke perutnya. Tuturnya, merasa enak serta membantu menahan rasa sakitnya. 

Kapok Makan Mi 

Agar ia tidak terasa jemu di kamar sepanjang hari, saya mengalihkan rasa sakitnya dengan mengajarinya membaca. Awalannya, sich, sebatas membacakan buku-buku narasi untuk dia, namun makin lama ia terasa tertarik untuk membaca. Saya serta Panda bertukaran mengajarinya. Tidak merasa, sekarang ini ia sudah lancar membaca, lo. 

Medianda dapat dibuktikan, sebenarnya Hilal anak yang begitu pandai serta aktif. Terlebih dulu ia tidak pernah sakit dan begitu penurut. Namun, mulai sejak kelahiran adiknya dua bln. lantas, Ilham Haki, ia jadi lebih manja padaku. Ia melarangku menggendong serta menyusui adiknya. Saya, sich, maklum saja sebab dianya tetaplah sakit serta mungkin saja takut rasa sayangku diambil oleh adiknya. 

Saat ini Hilal sudah dapat berjalan sekali lagi. Dapat dibuktikan, sich, tetaplah sedikit bongkok, namun saya percaya dalam waktu dekat ia dapat berdiri serta berjalan dengan sempurna. Tuturnya, ia menginginkan segera sekolah. 

Yang membikinku lega, mulai sejak sakit itu, Hilal trauma dengan mi instan. Bahkan juga menontonnya saja, dianya seolah tidak sudi. Lain dengan dahulu, saat ini ia begitu bahagia konsumsi makanan sehat, seperti sayur, daging, buah, serta susu. Susu dapat dibuktikan disarankan dokter untuk membantu mengatur keadaan dan kemampuan ususnya. 

Semoga ia dapat segera sembuh dari sakitnya serta jadi anak yang pandai serta berprestasi di sekolahnya nanti. 


Mudah-mudahan bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates: